JAKARTA, KOMPAS.com - Penyaluran kredit rumah susun sederhana milik atau rusunami subsidi dengan pola fasilitas likuiditas kemungkinan hanya tercapai 30 persen dari target pemerintah sebanyak 30.000 unit.
Lambannya penerapan pola fasilitas likuiditas (FL) dan petunjuk pelaksanaannya membuat perbankan hingga kini masih menghentikan penyaluran kredit rumah susun bersubsidi.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah di Jakarta, Senin (9/8), mengemukakan, pihaknya siap menyalurkan kredit rusunami bersubsidi dengan pola FL.
Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis tentang persyaratan dan penyaluran FL sehingga FL untuk kredit rumah susun belum bisa diterapkan.
”Dengan sisa waktu penyaluran kredit sampai akhir tahun hanya lima bulan, penyaluran kredit rumah susun subsidi kemungkinan hanya terserap maksimum sebanyak 10.000 unit,” ujar Evi.
Ia mengemukakan, hingga Juni 2010, total penyaluran kredit rumah subsidi berkisar 50.000 unit, yakni berupa rumah sederhana sehat (RSH). Adapun kredit rusunami bersubsidi masih terhenti.
Pemerintah menargetkan penyaluran rumah subsidi pada tahun 2010 sebanyak 150.000 RSH dan 30.000 rusunami.
Sejak awal tahun 2010, perbankan menghentikan penyaluran kredit rusunami bersubsidi karena menunggu pemberlakuan pola FL.
Payung hukum fasilitas likuiditas diterbitkan pemerintah pada Juli 2010, tetapi belum diikuti petunjuk teknis pelaksanaan.
Selama ini, rata-rata kontribusi BTN dalam penyaluran kredit rumah bersubsidi mencapai 97 persen dari total kredit rumah subsidi oleh perbankan.
Terkait penerapan fasilitas likuiditas, Evi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dana untuk pembiayaan dari penerbitan obligasi senilai Rp 1,6 triliun.
Dari jumlah itu, sekitar Rp 800 miliar dana akan disatukan (blended) dengan dana pemerintah sebesar Rp 2,6 triliun untuk pembiayaan perumahan subsidi. Dengan demikian, suku bunga kredit untuk FL diharapkan tidak lebih dari 9 persen per tahun. (Brigita Maria Lukita)
Baca Selengkapnya disini ....
Saturday, September 18, 2010
Tuesday, September 7, 2010
Kepemilikan Apartemen Bersubsidi Tersendat
BANDUNG, KOMPAS.com - Proses kepemilikan hampir 4.000 apartemen di Indonesia tersendat karena pemerintah menghentikan sementara penerapan pola subsidi. Masyarakat berpenghasilan terbatas yang telah memesan unit apartemen tidak dapat melanjutkan proses untuk memiliki hunian itu.
Asisten Deputi Urusan Penyediaan Rumah Susun Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung di Bandung, akhir pekan lalu, mengatakan, saat ini penerapan subsidi sedang memasuki masa transisi dari pola lama ke baru.
Pola lama yang berlaku sejak 2007 hingga akhir 2009 itu memberikan subsidi dalam bentuk uang muka ringan 12,5 persen dari harga apartemen, bantuan uang muka Rp 5 juta-Rp 7 juta, subsidi suku bunga kredit 2,5 persen, dan bebas pajak pertambahan nilai.
"Baru tahun 2011 likuiditas awal dana akan dilakukan untuk pola subsidi baru. Kami telah menyiapkan dana Rp 3 triliun. Pola subsidi pasti berjalan lagi," katanya.
Semula, pola subsidi baru akan diterapkan pada Juli 2010. Namun, pemerintah masih harus melakukan penyempurnaan dan memenuhi syarat sehingga sistem baru tidak terlaksana sesuai jadwal. Syarat itu seperti difungsikannya Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan, sumber daya manusia, dan organisasi itu yang direncanakan terlaksana pada 2011.
Guna mengantisipasi ketidakjelasan status pemilikan apartemen karena hambatan subsidi, pemerintah telah menyalurkan dana Rp 400 miliar selama masa transisi pada 2010. Pengembang yang mengalami kendala karena subsidi dapat mengajukan permintaan dana itu.
Menurut Pangihutan, sekitar 300 apartemen dengan proses pemilikan yang bermasalah berada di Bandung. Jumlah itu termasuk besar mengingat apartemen yang dibangun di Bandung pada 2010 hanya sekitar 1.000 unit. Adapun jumlah yang dibangun di Indonesia sekitar 30.000 unit.
Subsidi dihentikan
Senior Vice President Marketing PT Menara Karsa Mandiri Harry M Harnandi menuturkan, proses pemilikan sekitar 250 unit Buah Batu Park Apartment mandek karena masalah subsidi. Konsumen sudah memesan unit, tetapi tiba-tiba subsidi dihentikan.
"Akibatnya, akad kredit tak bisa dilakukan. Konsumen memesan unit di menara B dan D yang terdiri dari total 720 unit," katanya.
Jika subsidi lancar, mereka direncanakan bisa menghuni unit pada akhir 2010. Soal dana dari pemerintah yang bisa diajukan untuk mengatasi masalah subsidi, Harry menjelaskan, petunjuk untuk memperoleh bantuan itu belum disampaikan sehingga ia kesulitan mendapatkannya.
Kini konsumen yang terkatung-katung masih menunggu pola subsidi baru. Akan tetapi, muncul kekhawatiran jika pola baru tidak sesuai harapan. Harry berharap, subsidi dapat diterapkan dengan lancar secepatnya karena bunga bank harus dibayar.
"Jika subsidi lancar, cicilan konsumen berjalan. Kami pun bisa membayar kredit dari perbankan. Lalu bunganya akan lebih rendah," katanya. Harry menegaskan, pembangunan Buah Batu Park Apartment terus berjalan sehingga konsumen yang sedang dalam pembayaran tidak perlu merasa cemas.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia Jabar Hari Raharta menyatakan, pembangunan hunian vertikal membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Dukungan itu misalnya infrastruktur dan akses transportasi umum ke hunian. (Dwi Bayu Radius) Baca Selengkapnya disini ....
Asisten Deputi Urusan Penyediaan Rumah Susun Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung di Bandung, akhir pekan lalu, mengatakan, saat ini penerapan subsidi sedang memasuki masa transisi dari pola lama ke baru.
Pola lama yang berlaku sejak 2007 hingga akhir 2009 itu memberikan subsidi dalam bentuk uang muka ringan 12,5 persen dari harga apartemen, bantuan uang muka Rp 5 juta-Rp 7 juta, subsidi suku bunga kredit 2,5 persen, dan bebas pajak pertambahan nilai.
"Baru tahun 2011 likuiditas awal dana akan dilakukan untuk pola subsidi baru. Kami telah menyiapkan dana Rp 3 triliun. Pola subsidi pasti berjalan lagi," katanya.
Semula, pola subsidi baru akan diterapkan pada Juli 2010. Namun, pemerintah masih harus melakukan penyempurnaan dan memenuhi syarat sehingga sistem baru tidak terlaksana sesuai jadwal. Syarat itu seperti difungsikannya Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan, sumber daya manusia, dan organisasi itu yang direncanakan terlaksana pada 2011.
Guna mengantisipasi ketidakjelasan status pemilikan apartemen karena hambatan subsidi, pemerintah telah menyalurkan dana Rp 400 miliar selama masa transisi pada 2010. Pengembang yang mengalami kendala karena subsidi dapat mengajukan permintaan dana itu.
Menurut Pangihutan, sekitar 300 apartemen dengan proses pemilikan yang bermasalah berada di Bandung. Jumlah itu termasuk besar mengingat apartemen yang dibangun di Bandung pada 2010 hanya sekitar 1.000 unit. Adapun jumlah yang dibangun di Indonesia sekitar 30.000 unit.
Subsidi dihentikan
Senior Vice President Marketing PT Menara Karsa Mandiri Harry M Harnandi menuturkan, proses pemilikan sekitar 250 unit Buah Batu Park Apartment mandek karena masalah subsidi. Konsumen sudah memesan unit, tetapi tiba-tiba subsidi dihentikan.
"Akibatnya, akad kredit tak bisa dilakukan. Konsumen memesan unit di menara B dan D yang terdiri dari total 720 unit," katanya.
Jika subsidi lancar, mereka direncanakan bisa menghuni unit pada akhir 2010. Soal dana dari pemerintah yang bisa diajukan untuk mengatasi masalah subsidi, Harry menjelaskan, petunjuk untuk memperoleh bantuan itu belum disampaikan sehingga ia kesulitan mendapatkannya.
Kini konsumen yang terkatung-katung masih menunggu pola subsidi baru. Akan tetapi, muncul kekhawatiran jika pola baru tidak sesuai harapan. Harry berharap, subsidi dapat diterapkan dengan lancar secepatnya karena bunga bank harus dibayar.
"Jika subsidi lancar, cicilan konsumen berjalan. Kami pun bisa membayar kredit dari perbankan. Lalu bunganya akan lebih rendah," katanya. Harry menegaskan, pembangunan Buah Batu Park Apartment terus berjalan sehingga konsumen yang sedang dalam pembayaran tidak perlu merasa cemas.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia Jabar Hari Raharta menyatakan, pembangunan hunian vertikal membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Dukungan itu misalnya infrastruktur dan akses transportasi umum ke hunian. (Dwi Bayu Radius) Baca Selengkapnya disini ....
Monday, August 30, 2010
Kredit Rusunami Hanya Tercapai 30 Persen dari Target
JAKARTA, KOMPAS.com - Penyaluran kredit rumah susun sederhana milik atau rusunami subsidi dengan pola fasilitas likuiditas kemungkinan hanya tercapai 30 persen dari target pemerintah sebanyak 30.000 unit.
Lambannya penerapan pola fasilitas likuiditas (FL) dan petunjuk pelaksanaannya membuat perbankan hingga kini masih menghentikan penyaluran kredit rumah susun bersubsidi.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah di Jakarta, Senin (9/8), mengemukakan, pihaknya siap menyalurkan kredit rusunami bersubsidi dengan pola FL.
Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis tentang persyaratan dan penyaluran FL sehingga FL untuk kredit rumah susun belum bisa diterapkan.
”Dengan sisa waktu penyaluran kredit sampai akhir tahun hanya lima bulan, penyaluran kredit rumah susun subsidi kemungkinan hanya terserap maksimum sebanyak 10.000 unit,” ujar Evi.
Ia mengemukakan, hingga Juni 2010, total penyaluran kredit rumah subsidi berkisar 50.000 unit, yakni berupa rumah sederhana sehat (RSH). Adapun kredit rusunami bersubsidi masih terhenti.
Pemerintah menargetkan penyaluran rumah subsidi pada tahun 2010 sebanyak 150.000 RSH dan 30.000 rusunami.
Sejak awal tahun 2010, perbankan menghentikan penyaluran kredit rusunami bersubsidi karena menunggu pemberlakuan pola FL.
Payung hukum fasilitas likuiditas diterbitkan pemerintah pada Juli 2010, tetapi belum diikuti petunjuk teknis pelaksanaan.
Selama ini, rata-rata kontribusi BTN dalam penyaluran kredit rumah bersubsidi mencapai 97 persen dari total kredit rumah subsidi oleh perbankan.
Terkait penerapan fasilitas likuiditas, Evi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dana untuk pembiayaan dari penerbitan obligasi senilai Rp 1,6 triliun.
Dari jumlah itu, sekitar Rp 800 miliar dana akan disatukan (blended) dengan dana pemerintah sebesar Rp 2,6 triliun untuk pembiayaan perumahan subsidi. Dengan demikian, suku bunga kredit untuk FL diharapkan tidak lebih dari 9 persen per tahun. (Brigita Maria Lukita) Baca Selengkapnya disini ....
Lambannya penerapan pola fasilitas likuiditas (FL) dan petunjuk pelaksanaannya membuat perbankan hingga kini masih menghentikan penyaluran kredit rumah susun bersubsidi.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah di Jakarta, Senin (9/8), mengemukakan, pihaknya siap menyalurkan kredit rusunami bersubsidi dengan pola FL.
Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis tentang persyaratan dan penyaluran FL sehingga FL untuk kredit rumah susun belum bisa diterapkan.
”Dengan sisa waktu penyaluran kredit sampai akhir tahun hanya lima bulan, penyaluran kredit rumah susun subsidi kemungkinan hanya terserap maksimum sebanyak 10.000 unit,” ujar Evi.
Ia mengemukakan, hingga Juni 2010, total penyaluran kredit rumah subsidi berkisar 50.000 unit, yakni berupa rumah sederhana sehat (RSH). Adapun kredit rusunami bersubsidi masih terhenti.
Pemerintah menargetkan penyaluran rumah subsidi pada tahun 2010 sebanyak 150.000 RSH dan 30.000 rusunami.
Sejak awal tahun 2010, perbankan menghentikan penyaluran kredit rusunami bersubsidi karena menunggu pemberlakuan pola FL.
Payung hukum fasilitas likuiditas diterbitkan pemerintah pada Juli 2010, tetapi belum diikuti petunjuk teknis pelaksanaan.
Selama ini, rata-rata kontribusi BTN dalam penyaluran kredit rumah bersubsidi mencapai 97 persen dari total kredit rumah subsidi oleh perbankan.
Terkait penerapan fasilitas likuiditas, Evi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dana untuk pembiayaan dari penerbitan obligasi senilai Rp 1,6 triliun.
Dari jumlah itu, sekitar Rp 800 miliar dana akan disatukan (blended) dengan dana pemerintah sebesar Rp 2,6 triliun untuk pembiayaan perumahan subsidi. Dengan demikian, suku bunga kredit untuk FL diharapkan tidak lebih dari 9 persen per tahun. (Brigita Maria Lukita) Baca Selengkapnya disini ....
Friday, July 23, 2010
Apartemen Sewa Jangka Pendek Lebih Banyak Dicari
JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas sewa selama kuartal kedua tahun 2010 mengalami peningkatan pada tingkat hunian di semua sub-sektor apartemen sewa. Apartemen servis mencatat kenaikan paling tinggi yang berasal dari sewa jangka pendek sehubungan dengan adanya liburan dan program-program pelatihan jangka pendek.
Pada kuartal kedua tahun 2010 ini juga, terlihat semakin banyak apartemen khusus sewa yang menawarkan sewa bulanan bahkan mingguan dan makin banyak apartemen servis yang menawarkan sewa harian
Demikian hasil riset konsultan properti, Cushman & Wakefield, yang dipaparkan Head of Research and Advisory Department Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo, Rabu (21/7/2010), di Bursa Efek Jakarta.
"Pada kuartal kedua tahun 2010 ini juga, terlihat semakin banyak apartemen khusus sewa yang menawarkan sewa bulanan bahkan mingguan dan makin banyak apartemen servis yang menawarkan sewa harian," ujarnya kepada para wartawan.
Total permintaan unit apartemen sewa tercatat pada 30.241 unit dengan tingkat hunian sebesar 61,9 persen, meningkat 0,4 persen dari kuartal sebelumnya.
Dibandingkan dengan sub sektor lainnya, tingkat hunian apartemen servislah yang paling tinggi. Tingkat hunian apartemen servis memang yang mengalami peningkatan sebesar 4 persen dari 66,6 persen pada kuartal menjadi 70,6 persen pada kuartal ini. Peningkatan berasal dari keluarga domestik yang tinggal selama liburan.
Tingkat hunian apartemen khusus sewa dan kondominium sewa juga mengalami kenaikan masing-masing yakni sebesar 0,9 persen menjadi 69,9 persen dan naik 0,7 persen menjadi 60,6 persen pada kuartal kedua tahun 2010.
Tingkat penyerapan apartemen servis juga lebih banyak jika dibandingkan apartemen khusus sewa yakni 148 unit berbanding 58 unit.
Pasokan apartemen servis mendatang berasal dari proyek Citadines Jakarta yang beroperasi bulan September 2010 dan The H Tower Residence yang beroperasi tahun 2011. "Akan ada beberapa proyek apartemen servis dan apartemen khusus sewa yang sebelumnya hanya menawarkan sewa jangka panjang mulai menawarkan sewa jangka pendek. Diperkirakan penawaran seperti ini akan lebih diminati," ujar Arief. (Sabrina Asril)
Baca Selengkapnya disini ....
Pada kuartal kedua tahun 2010 ini juga, terlihat semakin banyak apartemen khusus sewa yang menawarkan sewa bulanan bahkan mingguan dan makin banyak apartemen servis yang menawarkan sewa harian
Demikian hasil riset konsultan properti, Cushman & Wakefield, yang dipaparkan Head of Research and Advisory Department Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo, Rabu (21/7/2010), di Bursa Efek Jakarta.
"Pada kuartal kedua tahun 2010 ini juga, terlihat semakin banyak apartemen khusus sewa yang menawarkan sewa bulanan bahkan mingguan dan makin banyak apartemen servis yang menawarkan sewa harian," ujarnya kepada para wartawan.
Total permintaan unit apartemen sewa tercatat pada 30.241 unit dengan tingkat hunian sebesar 61,9 persen, meningkat 0,4 persen dari kuartal sebelumnya.
Dibandingkan dengan sub sektor lainnya, tingkat hunian apartemen servislah yang paling tinggi. Tingkat hunian apartemen servis memang yang mengalami peningkatan sebesar 4 persen dari 66,6 persen pada kuartal menjadi 70,6 persen pada kuartal ini. Peningkatan berasal dari keluarga domestik yang tinggal selama liburan.
Tingkat hunian apartemen khusus sewa dan kondominium sewa juga mengalami kenaikan masing-masing yakni sebesar 0,9 persen menjadi 69,9 persen dan naik 0,7 persen menjadi 60,6 persen pada kuartal kedua tahun 2010.
Tingkat penyerapan apartemen servis juga lebih banyak jika dibandingkan apartemen khusus sewa yakni 148 unit berbanding 58 unit.
Pasokan apartemen servis mendatang berasal dari proyek Citadines Jakarta yang beroperasi bulan September 2010 dan The H Tower Residence yang beroperasi tahun 2011. "Akan ada beberapa proyek apartemen servis dan apartemen khusus sewa yang sebelumnya hanya menawarkan sewa jangka panjang mulai menawarkan sewa jangka pendek. Diperkirakan penawaran seperti ini akan lebih diminati," ujar Arief. (Sabrina Asril)
Baca Selengkapnya disini ....
Thursday, July 1, 2010
Cowell Bangun Apartemen WestMark di Tanjungduren
JAKARTA, KOMPAS.com - Momentum rendahnya suku bunga perbankan tak begitu saja ingin dilewatkan oleh perusahaan properti, seperti misalnya PT Cowell Development Tbk (COWL). Tahun ini, melalui anak usahanya, PT Sandi Mitra Selaras, Cowell akan membangun dan mengembangkan apartemen bernama WestMark Apartment.
Hari Dhoho, Direktur PT Cowell Development Tbk seusai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hari Kamis (24/6) mengatakan, apartemen anyar ini rencananya terdiri dari 30 lantai, dengan 620 unit. Lokasi yang dipilih terletak di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Hari menyebutkan, nilai proyek WestMark mencapai Rp 235 miliar. Sebanyak Rp 135 miliar akan didanai dari dana internal. Sedangkan Rp 100 miliar lainnya akan diperoleh dari pinjaman perbankan. Apartemen ini akan di lounching antara 2 hingga 3 bulan mendatang.
Cowell Development telah mengakuisisi 99,99 persen saham Sandi Mitra Selaras pada Maret 2008 silam. (Yuwono Triatmodjo/KONTAN) Baca Selengkapnya disini ....
Hari Dhoho, Direktur PT Cowell Development Tbk seusai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hari Kamis (24/6) mengatakan, apartemen anyar ini rencananya terdiri dari 30 lantai, dengan 620 unit. Lokasi yang dipilih terletak di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Hari menyebutkan, nilai proyek WestMark mencapai Rp 235 miliar. Sebanyak Rp 135 miliar akan didanai dari dana internal. Sedangkan Rp 100 miliar lainnya akan diperoleh dari pinjaman perbankan. Apartemen ini akan di lounching antara 2 hingga 3 bulan mendatang.
Cowell Development telah mengakuisisi 99,99 persen saham Sandi Mitra Selaras pada Maret 2008 silam. (Yuwono Triatmodjo/KONTAN) Baca Selengkapnya disini ....
Tuesday, June 15, 2010
Grup Lodha Bangun Apartemen Tertinggi di Dunia di Mumbai, India
MUMBAI, KOMPAS.com — Menara residensial tertinggi di dunia akan dibangun di Mumbai, India. Lodha Group yang bermarkas di Mumbai akan membangun gedung pencakar langit berlantai 117 di lahan seluas 17 acre (68.796 meter persegi) di Lower Parel di jantung kota. Tingginya mencapai 442 meter sehingga akan mengalahkan gedung residensial tertinggi di Australia (323 meter). Di menara ini akan dibangun pula 276 apartemen mewah.
Gedung ini akan menjadi ikon Mumbai dan simbol bagi India di panggung ekonomi dan kebudayaan global, demikian pernyataan yang dikeluarkan Grup Lodha.
Grup Lodha menunjuk arsitek Pei Cobb Freed and Partners yang berkantor di New York, Amerika Serikat, untuk merancang menara residensial tertinggi di dunia itu. Kantor arsitek ini sudah merancang Louvre Pyramid di Paris, Bank of China Tower di Hongkong, dan John Hancock Tower di Boston, Amerika Serikat.
Antara dua acre (8.093 m2) dan tiga acre (12.140 m2) akan dicadangkan sebagai ruang terbuka. Konstruksi gedung ini diperkirakan akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan dan akan rampung pada tahun 2014.
“Melalui kemitraan dengan arsitek, desainer, dan insinyur global, kami bertujuan membawa Mumbai menjadi sebuah landmark yang dapat memberi ilustrasi tentang spirit Mumbai untuk selalu terbang ke tempat yang lebih tinggi melalui kerja keras dan hasrat yang kuat,” ungkap Abhisheck Lodha, Direktur Lodha.
Harga properti residensial di India terus meningkat, terutama apartemen kelas atas yang banyak diminati. Perusahaan ini melakukan negosiasi dengan orang asing dan penata keuangan lokal untuk mendanai proyek ini.
“Ini proyek raksasa yang tentu harganya sangat mahal. Kami mengantisipasi permintaan individual-individual berharga yang memiliki jaringan,” kata Yashwant Dalal, President of The Estate Agents Association of India.
Proyek ini juga termasuk membangun vila-vila mewah dengan kolam renang pribadi, pusat perbelanjaan high-end, dan gedung perkantoran. Beberapa pembeli sudah mem-booking tempat sebelum peluncuran resmi yang dijadwalkan digelar akhir bulan Juni ini.
Pawan Swamy, Managing Director Jones Lang Lasalle Meghraj di India barat, sebuah perusahaan konsultan real estat global, menyebutkan, pengembang Lodha memiliki izin untuk membangun proyek yang mirip di daerah yang baru saja mereka akusisi, yaitu di Wadala.
Anand Gupta dari All India Builders Association of India mengatakan, semua orang India harus bangga pada proyek ini. “Ini merupakan simbol pembangunan dan kemajuan Mumbai,” tambahnya. (Robert Adhi Ksp/Property Wire)
KSP Baca Selengkapnya disini ....
Gedung ini akan menjadi ikon Mumbai dan simbol bagi India di panggung ekonomi dan kebudayaan global, demikian pernyataan yang dikeluarkan Grup Lodha.
Grup Lodha menunjuk arsitek Pei Cobb Freed and Partners yang berkantor di New York, Amerika Serikat, untuk merancang menara residensial tertinggi di dunia itu. Kantor arsitek ini sudah merancang Louvre Pyramid di Paris, Bank of China Tower di Hongkong, dan John Hancock Tower di Boston, Amerika Serikat.
Antara dua acre (8.093 m2) dan tiga acre (12.140 m2) akan dicadangkan sebagai ruang terbuka. Konstruksi gedung ini diperkirakan akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan dan akan rampung pada tahun 2014.
“Melalui kemitraan dengan arsitek, desainer, dan insinyur global, kami bertujuan membawa Mumbai menjadi sebuah landmark yang dapat memberi ilustrasi tentang spirit Mumbai untuk selalu terbang ke tempat yang lebih tinggi melalui kerja keras dan hasrat yang kuat,” ungkap Abhisheck Lodha, Direktur Lodha.
Harga properti residensial di India terus meningkat, terutama apartemen kelas atas yang banyak diminati. Perusahaan ini melakukan negosiasi dengan orang asing dan penata keuangan lokal untuk mendanai proyek ini.
“Ini proyek raksasa yang tentu harganya sangat mahal. Kami mengantisipasi permintaan individual-individual berharga yang memiliki jaringan,” kata Yashwant Dalal, President of The Estate Agents Association of India.
Proyek ini juga termasuk membangun vila-vila mewah dengan kolam renang pribadi, pusat perbelanjaan high-end, dan gedung perkantoran. Beberapa pembeli sudah mem-booking tempat sebelum peluncuran resmi yang dijadwalkan digelar akhir bulan Juni ini.
Pawan Swamy, Managing Director Jones Lang Lasalle Meghraj di India barat, sebuah perusahaan konsultan real estat global, menyebutkan, pengembang Lodha memiliki izin untuk membangun proyek yang mirip di daerah yang baru saja mereka akusisi, yaitu di Wadala.
Anand Gupta dari All India Builders Association of India mengatakan, semua orang India harus bangga pada proyek ini. “Ini merupakan simbol pembangunan dan kemajuan Mumbai,” tambahnya. (Robert Adhi Ksp/Property Wire)
KSP Baca Selengkapnya disini ....
Subscribe to:
Posts (Atom)